OPINI – Sebuah lompatan besar dalam pelestarian warisan leluhur baru saja ditorehkan di tanah Serambi Mekkah pada Rabu, 10 Juni 2026. Bertepatan dengan momentum Hari Media Sosial, sebuah gebrakan penuh makna dan sarat nilai spiritual lahir dari ujung barat Nusantara.
Di era saat jempol manusia bergerak lebih cepat daripada hati, sebuah sinergi agung hadir sebagai pengingat: sudah bijakkah kita mewariskan syariat, adat, dan budaya kepada generasi penerus?
Hanya berselang delapan hari setelah resmi mengantongi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kemenkumham RI (Nomor Pencatatan 01257949, 2 Juni 2026), kurikulum karakter KALAM PRABU (Kearifan Lokal Akhlak Mulia Pendidikan Religius Anak Berbudaya) langsung mengepakkan sayapnya.
Kurikulum yang dalam bahasa Aceh dikenal sebagai filosofi “Meuresam, Meuadab, Meusyariat, dan Meubudaya” ini resmi memulai langkah besarnya melalui penandatanganan surat imbauan oleh Ketua Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se-Nusantara, Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph.D.
Mandat Budaya dari Tahta Kesultanan Daya
Langkah awal ini berpusat di Kesultanan Daya (Raja Negeri Daya – Aceh Darussalam) di bawah pimpinan DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah. Melalui penetapan Surat Keputusan (SK) terbaru, Raja Negeri Daya resmi ditunjuk sebagai Penanggung Jawab program di wilayah Aceh Jaya.
Sementara itu, Kepala SMP Darun Nizham, Ridwan diamanahkan sebagai pelaksana teknis sekaligus supervisor yang akan mengawal implementasi kurikulum ini ke sekolah-sekolah lain.
Gayung bersambut, Raja Negeri Daya langsung memerintahkan Wazir Katibul Muluk untuk segera menerbitkan administrasi Warkah Amanat Kebudayaan Aceh Darussalam. Surat amanah syariat, adat, dan budaya ini diteruskan langsung kepada Bupati Aceh Jaya, dengan tembusan kepada: Ketua Lembaga Dzurriyat Radja Sultan Se-Nusantara, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Jaya, Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Jaya, Kepala Dinas Syari’at Islam Aceh Jaya, dan Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Aceh Jaya
Melalui warkah ini, SMP Darun Nizham resmi dikukuhkan sebagai sekolah pilot project. Ridwan selaku pelaksana dan supervisor diwajibkan memberikan laporan perkembangan secara berkala langsung kepada Raja Negeri Daya.
Kolaborasi Kreatif: Menembus Batas Layar Sinema
Keunikan pertemuan ini semakin terasa dengan hadirnya putra asli Woyla, Aceh Barat, Andri Saputra. Pria yang berprofesi sebagai Documentaries Filmmaker sekaligus pendiri Komunitas Asdoc Creative House, Yayasan Gotong Royong Kreatif, dan Lembaga Kolaborasi Kita Kreatif ini, siap membawa narasi KALAM PRABU ke tingkat nasional melalui visualisasi yang magis.
Andri, yang sebelumnya sukses menyutradarai film dokumenter berbasis budaya lewat pendanaan Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan—seperti Adat Panglima Laot Di Ujung Kuta Raja, Take Lawe, Adat Mawah, dan Pujangga Sufi Nusantara—kini bersiap membuka pintu langit bagi cita-cita budaya yang lama terpendam.
Sebuah karya sinematik monumental bertajuk “Sang Penjaga Akal Budaya: Merawat Rahim Kebangsaan Di Bumi Daya” dijadwalkan memulai proses syuting pada 10 September 2026 mendatang. Tidak berhenti di situ, proyek kelanjutannya yang mengupas sejarah mendalam, “Membuka Tabir Tahta Po Teumeurehoh”, juga telah dijadwalkan untuk diproduksi pada tahun 2027.
”Siapa Lagi Kalau Bukan Kita? Kapan Lagi Kalau Bukan Sekarang?”
Pertemuan tersebut berlangsung hangat dan emosional. Raja Negeri Daya dengan semangat tinggi menunjukkan kefasihannya dalam menuturkan setiap jengkal sejarah kerajaan. Semangat ini didukung penuh oleh Dato’ Tuan Guru Fekri Juliansyah, sosok yang tidak hanya berwawasan luas dan bersuara khas, tetapi juga sarat pengalaman dalam dunia perfilman bertajuk kerajaan.
Kombinasi ini menjanjikan sebuah sajian sejarah, syariat, dan adat yang ringan namun berbobot bagi generasi zilenial dan alfa. Momen haru membuncah saat Dato’ Guru Fekri berjalan di sekitar situs sejarah sambil menunjuk ke arah makam kuno masa kesultanan. “Kalau kita lihat dari segi corak nisan, kini ironisnya tak terurus.
Siapa lagi kalau bukan kita? Kapan lagi kalau bukan sekarang? Kita harus saling berbagi tugas sesuai kemampuan masing-masing,” ujar Dato’ Guru lirih namun tegas, membuat Ridwan yang mendengarnya tak kuasa menahan rasa haru.
Di sudut ruangan, Andri Saputra tampak mengangguk takzim. Matanya fokus membedah draf struktur adegan dan naskah sulih suara (voice over) untuk kedua film dokumenternya. Proses penyelarasan akhir (finishing) nantinya akan dibimbing langsung oleh Dato’ Guru Fekri dan Raja Negeri Daya demi menemukan ‘ruh’ murni dari amanah Syariat, Adat, dan Budaya Negeri Daya. Dari ujung Aceh Jaya, sepotong sejarah sedang dirajut kembali.
Bukan untuk terjebak di masa lalu, melainkan sebagai kompas komitmen moral bagi Indonesia yang bersatu, cerdas, dan tetap berakar pada budayanya di tengah gempuran digitalisasi dunia.(*)














