ACEH JAYA – Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya terus mengubah potensi sumber daya dan budaya lokal menjadi produk bernilai ekonomi, melalui kegiatan pengembangan ekonomi kreatif sekaligus sosialisasi perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang digelar oleh Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI. Kegiatan berlangsung di Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Syariah, Desa Alue Jang, Kecamatan Pasie Raya, Selasa (27/10).
Acara dibuka oleh Direktur Kuliner Kementerian Ekonomi Kreatif, Romi Astuti, dan dihadiri langsung oleh Bupati Aceh Jaya Safwandi. Dalam kesempatan itu, Bupati menegaskan pentingnya inovasi dan daya saing produk lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis menggali kekayaan alam, budaya, dan kearifan lokal Aceh Jaya agar memiliki nilai tambah ekonomi. Pemerintah daerah melihat sektor ekonomi kreatif – khususnya kuliner dan pengolahan hasil perikanan – sebagai peluang untuk membuka lapangan kerja, menambah pendapatan masyarakat, dan memperkuat perekonomian daerah.
Bupati Safwandi menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Ekonomi Kreatif atas dukungan yang diberikan. “Kita butuh kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, komunitas kreatif, media, dan masyarakat untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang produktif, inovatif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujarnya.
“Pengembangan ekonomi kreatif harus menghasilkan nilai tambah dari potensi yang kita miliki, membuka lapangan kerja, memperluas peluang usaha, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, kreativitas dan inovasi harus terus didorong agar produk unggulan Aceh Jaya mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” tegas Bupati.
Ia juga menyoroti perlunya peningkatan kapasitas UMKM, mulai dari kualitas produk, inovasi, pengemasan, penguatan merek, pemanfaatan teknologi digital, hingga perluasan akses pasar. Perlindungan HKI pun dinilai penting untuk menjaga identitas produk, melindungi hasil karya masyarakat, dan memberikan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Salah satu program unggulan yang dilaksanakan adalah Masak Bersama Master (MASAMO) dalam rangka Flagship Desa Kreatif. Sebanyak 45 pelaku usaha kuliner, pengusaha katering, dan pembuat jajanan dari Desa Alue Jang dan sekitarnya ikut berlatih mengolah bahan pangan lokal menjadi produk baru yang inovatif dan bernilai jual.
Dipandu oleh Chef Abdullah dari Islamic Chef & Culinary Indonesia (ICCI), peserta mengeksplorasi pengolahan ikan lele menjadi hidangan modern, antara lain Lele Gulung Crispy with Black Curry dan Spaghetti with Acehnese Catfish Seasoning. Pelatihan juga menekankan pembuatan produk Ready‑To‑Eat (siap santap) dengan standar komersial, termasuk teknik sterilisasi agar produk lebih tahan simpan dan bisa masuk ke jaringan ritel modern.
Direktur Kuliner Romi Astuti menyebut ekonomi kreatif sebagai The New Engine of Growth atau mesin penggerak pertumbuhan baru yang tumbuh dari daerah. Melalui program MASAMO, bahan pangan lokal diharapkan bisa diolah menjadi produk menarik yang membuka peluang usaha dan menambah pendapatan masyarakat.
Kegiatan ini juga mengingatkan pelaku usaha tentang pentingnya HKI: merek sebagai identitas yang membangun kepercayaan konsumen, serta kekayaan intelektual komunal seperti ekspresi budaya dan pengetahuan tradisional yang perlu dilindungi. Selain itu, keterampilan fotografi, videografi, dan pembuatan konten digital juga diajarkan untuk memasarkan produk kuliner dan olahan perikanan hingga ke tingkat regional dan nasional.
Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti pada demonstrasi memasak, tetapi berlanjut menjadi pengembangan usaha nyata melalui inovasi produk, penguatan merek, perlindungan HKI, dan perluasan jaringan pemasaran. Melalui sinergi semua pihak, ekonomi kreatif berbasis potensi lokal diharapkan memperkuat daya saing UMKM, menciptakan peluang kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta berkelanjutan di Aceh Jaya, (*).
Redaksi
- Penulis: Aswar
- Editor: Redaksi
- Sumber: Pemkab Aceh Jaya














