Opini  

Tahu Segalanya Tapi Tak Mengenal Diri Sendiri

Redaksi
Ratna Dewi, Mahasiswa Pascasarjana KPI UIN Sultanah Narasyiah Lhokseumawe. Foto: Dok pribadi

Opini – Dalam dunia yang begitu canggih, kemudahan akses informasi bukan lagi sebuah hal yang mewah. Hanya dengan modal satu sentuhan jempol, semua informasi bisa di akses dengan mudah. Mulai kabar perang di Gaza, trend diet, outfit terkini bahkan apa yang dimakan oleh artis terfavorit.

Selain itu, diketahui juga mengenai bagaimana cuaca di negara lain dalam hitungan detik, tapi kapan kita benar-benar tau cuaca dalam diri kita sendiri? Paparan informasi yang begitu berlimpah membuat manusia terlena dan tidak sempat mencerna. Over Informed but understood, istilah yang tepat untuk dirasa oleh manusia modern hari ini. Media sosial telah menjadikan orang-orang sebagai “penyerap instan”, bukan “pemikir mendalam”.

Hal ini dapat dirasakan dari ilusi pengetahuan yang diberikan oleh teknologi sekarang, pintar karena membaca sekilas, merasa tahu karena melihat sepintas. Pasalnya, banyak dari yang diserap hanyalah serpihan informasi tanpa makna yang benar-benar tertanam. Merasa tahu karena sering melihat, bukan karena memahami.

Tentunya hal tersebut dapat berakibat pada kehilangan makna, kesulitan berfokus dan bahkan kecemasan yang meningkat, sering kali juga menguti istilah-istilah dari teori psikologi seperti mental health, self awareness tapi masih merasa hampa dan juga terisolasi. Dalam hal ini media sosial telah mengubah waktu kontemplasi yang seharusnya diisi dengan ketenangan pikiran, memahami sesuatu malah dihabiskan berjam-jam dengan scrolling tanpa arah.

Saat ini, manusia berlomba-lomba hidup dalam mode peformatif. Sebuah mode melakukan sebuah tindakan untuk mendapatkan sebuah validasi tertentu. Berapa banyak diantara kita yang sibuk membangun citra di media sosial tanpa benar-benar “mengisi” diri? Saat ini orang-orang jarang berhenti untuk bertanya siapa aku tanpa likes, tanpa notifikasi, dan tanpa penilaian orang lain.

Di media sosial, semua orang dapat memilih peran apa yang ingin dimainkan dan menyembunyikan aspek yang lain yang jauh berbeda dengan kehidupan sehari-hari. Sedangkan pada Linkedin, Instagram, suatu hal yang mudah untuk membranding diri yang sangat berbeda dengan kehidupan asli.

Tentunya hal ini dibangun diatas potongan-potongan umpan balik dunia maya seperti like dan komen, dan hal ini jika terus menerus beralih peran, batas antara “saya di dunia nyata” dan “saya di dunia maya” tentu menjadi tidak jelas. Semua validasi eksternal ini bisa mengikis validasi internal dan mengakibatkan harga diri menjadi rapuh dan ketergantungan dengan citra digital yang telah dibangun.

Sehingga mengenal diri butuh keberanian untuk berhenti sejenak dari dunia yang begitu bising ini, bukan untuk putus sama sekali dengan bermacam ragam teknologi, tapi mengambil jeda, dan dengan seperti itu justru membantu untuk menapaki kehidupan dengan lebih sadar. Dengan mengenal diri, masyarakat akan menjadi tahu batasan, tujuan dan apa yang membuat hidup layak dijalani, layaknya ungkapan dari filosofis di kuil Apollo pada masa Socrates yang mengatakan “kenalilah dirimu” dan mengharuskan manusia untuk bepikir kritis serta merenungkan berbagai hal untu memahami diri.

Namun sekarang, refleksi diri ini dianggap buang-buang waktu, dan refleksi butuh jeda dan sunyi dari kebisingan. Manusia modern paling takut dengan keheningan. Saat merasa suasana hening, tangan refleks mengambil ponsel untuk mengusir keheningan dalam ruang kepala sendiri. Padahal keheningan merupakan keadaan yang tepat untuk mengenal diri.

Dalam tradisi timur, keheningan bukanlah sebuah kelemahan. Tapi juga kesempatan untuk memahami hidup. Para sufi dengan menemukan Tuhan dalam dian, pemikir Zen menemukan kedamaian dari meditasi. Di era yang memuja kecepatan dan konektivitas, mengenal diri sendiri adalah bentuk perlawanan paling halus. Kita tidak perlu tahu serba tahu untuk menjadi manusia yang utuh, cukup tahu apa yang penting bagi hidup kita. Sebab pengetahuan sejati, ketenagangan pikiran tidak lahir dari jumlah data yang kita miliki, tapi dari kedalaman makna yang kita rasakan. Mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak informasi, tapi lebih banyak keheningan, dan sebelum kita menaklukkan dunia, mungkin kita perlu terlebih dahulu menemukan siapa diri kita di dalamnya.

Penulis : Ratna Dewi, Mahasiswa Pascasarjana KPI UIN Sultanah Narasyiah Lhokseumawe
Editor : Redaksi