Edi Samri Sosok Tarzan Aceh Sang Penjaga Rimba dan Sahabat Gajah

ACEH JAYA – Edi Samri warga Desa Keude Krueng Sabee, Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya merupakan sosok penjaga rimba yang dijuluki masyarakat sekitar sebagai Tarzan Aceh_red di balik rimbunnya hutan belantara Aceh, Selasa (6/1/3026).

‎Bukan sekadar julukan, gelar itu melekat padanya karena kemampuannya yang luar biasa dalam menjalin komunikasi dan ikatan batin dengan satwa liar khususnya Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus).

‎Dalam sebuah potret terbaru yang viral, Edi Samri yang juga dikenal sebagai Pawang Gajah tampak tenang menunggangi seekor gajah jantan besar dengan gading yang kokoh. Tanpa rasa takut, ia duduk di pundak raksasa rimba  menunjukkan harmoni yang jarang ditemukan antara manusia dan hewan liar.

Jembatan Antara Konflik dan Damai
‎Kehadiran Pawang Tarzan dari Aceh Jaya memiliki peran krusial bagi ekosistem setempat. Wilayah Aceh Jaya sering kali menjadi titik konflik antara gajah liar dan pemukiman warga. Di sinilah peran sang “Tarzan” menjadi sangat vital

‎Mitigasi Konflik: Ia sering dipanggil untuk menggiring gajah liar yang masuk ke perkebunan warga kembali ke dalam hutan tanpa menggunakan kekerasan.

‎Penerjemah Alam: Masyarakat percaya ia memiliki “ilmu” atau kearifan lokal yang memungkinkan gajah-gajah tersebut patuh pada instruksinya.

‎Edukasi Konservasi: Melalui tindakannya, ia mengajarkan bahwa gajah bukanlah musuh, melainkan bagian penting dari kekayaan alam Aceh yang harus dilindungi.

Simbol Kearifan Lokal Aceh
‎Kisah Pawang Tarzan adalah pengingat akan tradisi panjang masyarakat Aceh dalam menghormati gajah, yang secara historis dikenal sebagai “Teungku Meurah”. Di tengah ancaman deforestasi dan perburuan liar, sosok seperti beliau menjadi benteng terakhir pertahanan konservasi berbasis budaya.

‎Bagi wisatawan maupun peneliti, sosok Pawang Tarzan Aceh Jaya kini menjadi ikon baru yang membuktikan bahwa manusia dan alam bisa hidup berdampingan secara damai di bumi Serambi Mekkah.

‎ “Gajah tidak akan mengganggu jika kita tidak merusak rumahnya. Kita hanya perlu mengerti bahasa hati mereka.” Pesan tersirat dari sang penjaga rimba. Salam Pemerhati Lingkungan Aceh Jaya.**

Exit mobile version