Umum  

Tradisi Seumuleng 2026, Sembilan Negeri Bersatu di Ujung Barat Aceh

ACEH JAYA – Tradisi adat Peumeunap dan Seumuleng Kerajaan Meurehom Daya tahun ini menjadi tonggak sejarah besar untuk memasukkan kebudayaan daerah secara resmi kedalam kurikulum pendidikan sekolah, Sabtu (30/5).

‎Kabar baik ini disambut positif oleh Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph. D (Ketua Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se- Nusantara). Acara adat yang sakral ini tidak lagi sekadar menjadi tontonan tahunan. Kebudayaan lokal kini bersiap menjadi panduan ilmu bagi generasi muda bangsa. Langkah nyata ini diambil agar nilai luhur warisan nenek moyang tidak pernah pudar ditelan zaman yang kian modern.

‎Adapun pelaksanaan budaya tersebut berlangsung dengan sangat agung dan penuh khidmat di Kabupaten Aceh Jaya. Semua pihak yang hadir merasakan getaran semangat persatuan yang sangat kuat. Suasana sakral begitu terasa saat prosesi adat dimulai. Hal ini membuktikan bahwa identitas bangsa kita masih hidup subur di hati masyarakat.

Kehadiran Para Raja dan Zuriat Agung Nusantara

‎Momen ini menjadi semakin istimewa karena kehadiran para tokoh penting. Berbagai zuriat raja dari penjuru Aceh dan Nusantara datang berkumpul untuk bersatu padu. Kehadiran mereka membawa dukungan moral yang sangat besar.

‎Tokoh-tokoh kerajaan yang hadir dalam acara agung ini adalah: Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph. D (Ketua Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se- Nusantara), YTAM Tuanku Muhammad Fauzi, S. Kom, MH (Raja Kejeruan Metar Belad Deli), Tgk. Irwansyah (Kerajaan Tamiang), Teuku Muhammad Nurdin (Kerajaan Peureulak), Teuku Badruddin Syah (Kerajaan Samudra Pasai), Dr. Teuku Rasyidin (Kerajaan Jeumpa), Teuku Iskandar (Kerajaan Pedir), Pati Darmuda (Penasehat Kesultanan Daya Raja), Teuku Marhaidi (Kerajaan Teunom), Teuku Razali (Kerajaan Bu Meulaboh), Teuku Khairizal dan Teuku Rusli (Kerajaan Seunagan), Teuku Nasruddin (Kerajaan Tanah Nata), Teuku Amri (Kerajaan Kuala Batu) dan Sutan Aming Syah (Kerajaan Sinabang).

‎Teuku Raja Saifullah DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah (Raja Negeri Daya & Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam) menyampaikan rasa bahagianya yang sangat mendalam. Beliau mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh raja yang berhadir. Apresiasi khusus diberikan kepada Ketua Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se- Nusantara yang rela terbang langsung dari Kota Palembang. Teuku Raja Saifullah juga menitipkan harapan besar agar pemerintah dan masyarakat terus mengkaji dan menjaga adat ini agar tidak hilang.

Warisan Luhur untuk Dunia

‎Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph. D (Ketua Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se- Nusantara) memberikan pujian tertinggi bagi tradisi ini. Beliau menegaskan bahwa Peumeunap dan Seumuleng adalah bagian penting dari warisan dunia dalam bab warisan tak benda. Pemerintah daerah setempat kini telah menetapkannya sebagai kalender budaya tahunan resmi di Aceh Jaya. Kegiatan mulia ini mampu menyatukan seluruh zuriat dari sembilan negeri di Aceh Darussalam.

‎Acara ini juga terbukti menambah kekayaan khazanah budaya di tingkat dunia. Tamu undangan dari pihak provinsi, Majelis Adat Aceh (MAA), perwakilan Wali Nanggroe, serta jajaran Forkopimda dan Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) Aceh Jaya ikut serta menyukseskan acara ini.

‎Terobosan Baru di Dunia Pendidikan
‎Seorang budayawan sekaligus pemerhati Kerajaan Teunom bernama Ridwan, S. Pd. I., MA., M. Pd., melihat adanya peluang emas. Beliau juga merupakan kepala sekolah SMP Darun Nizham sekaligus kandidat doktor Pendidikan Islam di kampus UIN Ar-Raniry. Ridwan bergerak cepat melakukan koordinasi intensif dengan lima zuriat raja di wilayah Barat Selatan Aceh.

‎Niat tulus ini mendapatkan angin segar dan sambutan yang sangat hangat dari para zuriat raja. Dalam waktu dekat, mereka akan segera menyusun kerja sama resmi berupa Memorandum of Understanding (MoU). Lima zuriat kerajaan yang telah memberikan lampu hijau langsung dalam perjanjian ini adalah: Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph. D (Ketua Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se- Nusantara), Teuku Raja Saifullah DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah (Raja Negeri Daya dan Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam) Teuku Marhaidi (Kerajaan Teunom), Teuku Nasruddin (Kerajaan Tanah Nata), dan Teuku Amri (Kerajaan Kuala Batu).

‎Target Nyata Tahun Pelajaran Baru
‎Target besar dari kerja sama ini dirancang dengan sangat matang dan jelas. Program Pendidikan Islam berbasis kearifan lokal ini diprioritaskan berjalan pada semester satu tahun pelajaran 2026-2027. Pengukuhan inovasi ini akan menjadi langkah nyata pertama di Indonesia. Para zuriat raja nantinya akan diundang kembali untuk menghadiri acara penandatanganan MoU secara massal.

‎”Gerakan serentak ini membuktikan bahwa adat, budaya, dan kearifan lokal bisa berjalan beriringan dengan dunia pendidikan modern berkat restu dari para zuriat raja. Kisah inspiratif dari ujung barat Indonesia ini menjadi cermin bagi seluruh daerah untuk selalu mencintai dan menjaga jati diri bangsa kita,” tutup Ridwan,(*)

Exit mobile version