LHOKSEUMAWE – Islamic Relief Indonesia memperkuat komitmennya dalam mendukung upaya pengentasan kemiskinan di Kota Lhokseumawe melalui pengembangan program House and Livelihood Support for the Poorest (HELIOST) yang dikembangkan dalam konsep “Gampong Bahagia 2045.”
Konsep tersebut dipaparkan dalam pertemuan stakeholders yang digelar di Aula Lantai III Kantor Wali Kota Lhokseumawe, Kamis (13/8/2026).
Adapun pertemuan tersebut menjadi ruang strategis bagi Islamic Relief Indonesia bersama Pemerintah Kota Lhokseumawe, Baitul Mal Kota (BMK) Lhokseumawe, Kementerian Agama, serta berbagai pemangku kepentingan untuk menyatukan visi dalam membangun model pengentasan kemiskinan yang lebih terpadu dan berkelanjutan.
Islamic Relief: Kemiskinan Harus Ditangani Secara Menyeluruh
Melalui HELIOST, Islamic Relief Indonesia membawa pendekatan yang tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi berupaya membangun kemandirian keluarga dan komunitas.
Pendekatan tersebut melihat kemiskinan sebagai persoalan multidimensi yang berkaitan dengan kondisi rumah, sumber penghasilan, pendidikan, kesehatan, lingkungan, kapasitas keluarga, serta akses terhadap peluang ekonomi.
Deputy 2 CEO Islamic Relief Indonesia, T. Candra Kirana, mengatakan HELIOST dirancang untuk memastikan intervensi yang diberikan mampu menciptakan perubahan kehidupan yang berkelanjutan.
“Kita tidak hanya ingin membangun rumah, tetapi membangun kehidupan. Rumah yang layak harus berjalan bersama dengan penghidupan yang layak. Karena itu, intervensi dalam program ini harus menyentuh keluarga secara utuh dan memberikan mereka peluang untuk tumbuh menjadi lebih mandiri,” ungkap Candra
Menurutnya, pembangunan rumah layak merupakan salah satu pintu masuk untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga miskin. Namun, keberlanjutan perubahan membutuhkan dukungan terhadap penghidupan, pendidikan, kesehatan, lingkungan dan penguatan komunitas.
“Islamic Relief percaya bahwa perubahan yang berkelanjutan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Karena itu, kami ingin membangun kolaborasi bersama Pemerintah Kota, Baitul Mal, Kementerian Agama, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas dan masyarakat,” tambah Candra.
Dari Rumah Layak Menuju Keluarga Mandiri
Konsep Gampong Bahagia 2045 menjadi kerangka pengembangan HELIOST untuk membangun masyarakat yang tidak hanya menerima manfaat, tetapi mampu berkembang menjadi masyarakat yang berdaya dan pada akhirnya berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya.
Konsep tersebut dibangun melalui lima pilar utama, yaitu Keluarga Bahagia, Usaha Bahagia, SDM Bahagia, Komunitas Bahagia, dan Lingkungan Bahagia.
Melalui lima pilar tersebut, Islamic Relief mendorong pendekatan yang mengintegrasikan pembangunan rumah layak, penguatan ekonomi keluarga, pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, penguatan kapasitas masyarakat serta perbaikan lingkungan.
Target jangka panjang yang dipaparkan dalam konsep Gampong Bahagia 2045 antara lain pengembangan 60 Gampong Bahagia, dukungan terhadap 60 rumah layak huni, peningkatan kepemilikan usaha produktif keluarga sasaran, serta terbentuknya ekosistem pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Sementara itu, Pemko Lhokseumawe Sambut Kolaborasi
Mewakili Wali Kota Lhokseumawe, Plt. Asisten Administrasi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Lhokseumawe, Abdul Hadi, menyampaikan dukungan Pemerintah Kota terhadap inisiatif kolaboratif yang dikembangkan Islamic Relief Indonesia bersama para mitra.
Menurutnya, pengentasan kemiskinan membutuhkan pendekatan terpadu dan keterlibatan berbagai pihak.
“Pemerintah Kota Lhokseumawe sangat mendukung setiap upaya kolaboratif yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pengentasan kemiskinan harus dilakukan secara terpadu, bukan hanya melalui bantuan sesaat, tetapi melalui pemberdayaan, peningkatan kapasitas keluarga, penguatan ekonomi dan penciptaan lingkungan yang mendukung masyarakat untuk mandiri,” ujarnya.
Ia berharap pendekatan berbasis gampong tersebut dapat menjadi model yang terukur dan berkelanjutan bagi Kota Lhokseumawe.
Kemenag Dorong ZISWAF Mendukung Pemberdayaan
Dirjen Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Waryono Abdul Ghafur, M.Ag., menekankan pentingnya mengoptimalkan zakat, infak, sedekah dan wakaf (ZISWAF) sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, dana umat harus mampu memberikan dampak jangka panjang dengan mendorong mustahik menuju kemandirian.
“Zakat harus kita lihat sebagai instrumen transformasi sosial dan ekonomi. Kita tidak ingin masyarakat terus berada dalam posisi sebagai penerima bantuan. Yang kita bangun adalah proses transformasi, dari mustahik menjadi masyarakat yang berdaya dan pada waktunya mampu menjadi muzaki,” kata Prof. Waryono.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, Baitul Mal, lembaga kemanusiaan dan masyarakat menjadi kekuatan penting dalam memperluas dampak program pemberdayaan.
Sinergi Islamic Relief dan Baitul Mal
Ketua Baitul Mal Kota Lhokseumawe, Dr. H. Damanhur Abbas, Lc., MA, menyampaikan bahwa pendekatan yang dikembangkan Islamic Relief melalui HELIOST sejalan dengan semangat pengembangan zakat produktif.
“Baitul Mal memiliki tanggung jawab untuk memastikan dana umat yang dihimpun benar-benar memberikan kemaslahatan. Kita ingin bantuan yang diberikan menjadi titik awal perubahan, bukan membuat masyarakat terus bergantung pada bantuan,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi antara Islamic Relief dan Baitul Mal dapat memperkuat upaya membangun masyarakat yang mandiri melalui dukungan rumah layak, usaha produktif dan penguatan kapasitas keluarga.
Menggerakkan Partisipasi Masyarakat
Selain dukungan program dan pemberdayaan, konsep Gampong Bahagia 2045 juga memperkenalkan GIDAS (Gerakan Infak Dua Ribu Sehari) sebagai salah satu pendekatan untuk membangun partisipasi masyarakat.
Melalui gerakan infak Rp2.000 per hari, masyarakat diajak menjadi bagian dari pembiayaan program sosial dan pemberdayaan secara gotong royong.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat Islamic Relief dalam membangun solusi kemanusiaan yang melibatkan berbagai pihak, sekaligus memperkuat kepemilikan masyarakat terhadap program yang dijalankan.
Dari Mustahik Menjadi Muzaki
Pertemuan stakeholders ini menjadi salah satu langkah awal Islamic Relief Indonesia bersama Pemerintah Kota Lhokseumawe, Kementerian Agama dan Baitul Mal untuk mematangkan konsep dan strategi implementasi HELIOST serta Gampong Bahagia 2045.
Ke depan, kolaborasi akan diarahkan untuk membangun model pemberdayaan yang dapat diukur dampaknya dan berpotensi direplikasi di wilayah lainnya.
Bagi Islamic Relief Indonesia, keberhasilan program bukan hanya diukur dari berapa banyak rumah yang dibangun atau bantuan yang disalurkan, tetapi dari seberapa jauh keluarga penerima manfaat mampu meningkatkan kualitas hidup, memiliki sumber penghasilan yang berkelanjutan, mandiri dan mampu berkontribusi kepada masyarakat.
Semangat yang dibangun adalah:
“Dari Mustahik Menjadi Muzaki, Dari Penerima Manfaat Menjadi Penggerak Kebaikan.”
Melalui HELIOST dan konsep Gampong Bahagia 2045, Islamic Relief Indonesia ingin terus menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat Lhokseumawe yang lebih mandiri, produktif dan sejahtera melalui kolaborasi, pemberdayaan dan perubahan yang berkelanjutan.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Wali Kota Lhokseumawe Dr. Sayuti Abubakar, S.H., M.H., Plt. Asisten Administrasi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Lhokseumawe, Abdul Hadi, S.E., M.Si., beserta jajaran OPD Pemerintah Kota Lhokseumawe, unsur Polres Lhokseumawe dan Kodim 0103 Aceh Utara.
Turut hadir sebagai narasumber Prof. Dr. H. Waryono Abdul Ghafur, M.Ag., Dirjen Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI, Deputy 2 CEO Islamic Relief Indonesia T. Candra Kirana, Ketua Baitul Mal Kota Lhokseumawe Dr. H. Damanhur Abbas, Lc., MA, serta para pemangku kepentingan lainnya.
(*)
Islamic Relief Indonesia Dorong “Gampong Bahagia 2045”, Perkuat Kolaborasi Pengentasan Kemiskinan














