Opini – Ditengah dinamika sosial yang kerap diwarnai perbedaan pandangan dan polarisasi, hadir sebuah buku reflektif berjudul Di Satu Saf Yang Sama karya Ustadz Syamsul Kamal. Buku ini mengajak pembaca merenungi kembali makna Idul Fitri sebagai momentum persatuan dan arah hidup bersama.
Setiap tahun, umat Islam merasakan suasana yang sama: berdiri dalam satu saf, tanpa mempersoalkan latar dan warna. Bahu bersentuhan, takbir menggema, dan untuk sesaat perbedaan seakan melebur.
Namun suasana itu sering tidak bertahan lama. Setelah hari raya berlalu, identitas kembali ditegaskan, perbedaan kembali membesar, dan jarak perlahan tercipta.
Melalui buku ini, Ustadz Syamsul Kamal mengangkat satu pertanyaan sederhana namun menggugah:
Di hari raya kita berdiri tanpa warna. Mengapa setelahnya kita kembali sibuk memilih warna?
Buku ini tidak dimaksudkan untuk menyeragamkan perbedaan. Sebaliknya, ia mengajak umat untuk dewasa dalam menyikapi keragaman dan kembali menempatkan iman sebagai pusat.
Menurut penulis, persoalan umat bukan terletak pada kurangnya amal atau organisasi. Masjid hidup, majelis ilmu tumbuh, dan aktivitas sosial berjalan. Tantangan terbesarnya adalah menjaga arah bersama.
“Persatuan bukan sesuatu yang belum pernah kita miliki. Kita pernah merasakannya. Kita hanya belum sepenuhnya menjaganya,” demikian salah satu pesan utama dalam buku ini.
Dengan bahasa yang tenang, puitik, dan reflektif, Di Satu Saf yang Sama memadukan perenungan spiritual dan kesadaran sosial.
Buku ini relevan dibaca menjelang maupun setelah Idul Fitri sebagai pengingat bahwa hari raya bukan sekadar momentum emosional, melainkan fondasi peradaban yang perlu dirawat sepanjang tahun.
Tentang Penulis
Ustadz Syamsul Kamal adalah pendiri, penggerak, sekaligus pembina Forum NGOPIII (Ngobrol Perihal Iman, Islam, dan Ihsan), sebuah ruang dialog yang menghadirkan percakapan keislaman secara tenang, reflektif, dan mencerahkan.
Beliau juga membina majelis pengajian diri (Beut Droe) atau Akademi Kehidupan Qur’ani, sebuah ikhtiar pendidikan yang berfokus pada pembentukan karakter Qur’ani dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan sosial.
Melalui majelis ilmu, tulisan, dan pembinaan yang konsisten, Ustadz Syamsul Kamal berupaya menghadirkan Islam sebagai jalan yang menenangkan, mempersatukan, dan memberi arah hidup bersama di tengah dinamika umat dan tantangan zaman.
