BANDA ACEH – Dunia jurnalistik seharusnya menjadi ruang adu gagasan, kecerdasan, dan kualitas karya, bukan panggung untuk saling menjatuhkan melalui narasi yang justru mencederai kehormatan profesi.
Hal tersebut disampaikan Samsuar, seorang wartawan muda anggota Biasa PWI Provinsi Aceh kepada habakini.com pada Jumat (6/11). Ia ikut menanggapi perkembangan isu miring yang terjadi diruang publik menjelang pelaksanaan Konferensi Provinsi PWI Aceh yang diagendakan pada 21 hingga 23 November 2026 mendatang di Banda Aceh.
Bahkan ia juga menyayangkan munculnya sikap sebagian kalangan yang dinilai lebih mengedepankan asumsi dan narasi merendahkan dibandingkan menunjukkan kualitas serta kompetensi jurnalistik.
Menurutnya, senioritas dalam dunia pers semestinya menjadi teladan dalam membangun profesionalisme, bukan dijadikan alasan untuk merasa paling benar atau meremehkan kemampuan orang lain.
”Ketika wartawan senior justru berasumsi tidak kompeten dan membangun narasi saling menjatuhkan, itu menjadi nilai kekanak-kanakan. Marwah besar seorang insan jurnalistik seharusnya dijaga melalui karya, integritas, dan kompetensi, bukan dipertaruhkan dalam persaingan yang tidak sehat,” ujar Samsuar.
Ia menilai, perbedaan pandangan dan kritik merupakan hal wajar dalam dunia pers. Namun, kritik seharusnya disampaikan dengan argumentasi, data, dan ukuran profesionalisme, bukan melalui serangan personal.
Samsuar mengingatkan profesi wartawan memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan informasi kepada publik secara akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.
”Jangan sampai jabatan senioritas lebih ditonjolkan daripada kualitas pemikiran. Sebab, dalam jurnalistik, yang seharusnya berbicara adalah karya dan integritas, bukan ego,” tutupnya,(*).
Redaksi
- Penulis: Redaksi














