Opini – Sejarah mencatat bahwa salah satu puncak tertinggi peradaban manusia pernah lahir dari rahim dunia Islam. Sejak wahyu pertama yang memerintahkan “Iqra’” bacalah umat ini diarahkan untuk menjadikan ilmu sebagai fondasi kehidupan. Bagi Islam, ilmu tidak semata-mata alat memahami realitas empiris, melainkan jembatan menuju kesadaran
ilahiah, keadilan sosial, dan kesejahteraan umat. Itulah sebabnya, tradisi keilmuan Islam tumbuh sebagai sintesis harmonis antara intelektualitas rasional, kesadaran spiritual, dan komitmen moral.
Dalam buku History of Islamic Philosophy yang disunting oleh Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman menegaskan bahwa filsafat Islam bukan sekadar hasil ekspor Yunani ke dunia Arab. Sebaliknya, filsafat Islam merupakan ekosistem pemikiran yang berakar pada konsep hikmah, istilah Qur’ani yang menggambarkan kebijaksanaan bersumber dari wahyu ilahi, yang kemudian membentuk dasar bagi perpaduan harmonis antara akal dan iman dalam tradisi intelektual Islam.
Tokoh-tokoh awal seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibn Sina menempatkan filsafat sebagai jalan penyempurnaan jiwa dan penemuan hakikat, bukan sebatas spekulasi intelektual. Peradaban Islam mengintegrasikan akal dan intuisi, sains dan etika, wahyu dan rasio sebuah model keilmuan yang hari ini semakin relevan, saat dunia diguncang oleh krisis moral dan reduksi ilmu menjadi sekadar instrumen teknologi.
Kemegahan Institusi Keilmuan Islam Sejarah membuktikan komitmen dunia Islam terhadap penyemaian ilmu. Bayt al-Hikmah di Baghdad, pusat intelektual Andalusia, hingga Universitas Al-Azhar berdiri sebagai bukti bahwa peradaban ini dibangun bukan oleh pedang, tetapi oleh pena.
Para sarjana muslim tidak hanya menerjemahkan khazanah Yunani, Persia, dan India, mereka mengkritisi, mengembangkan, dan melahirkan gagasan baru. Tokoh seperti Al-Khwarizmi menciptakan aljabar, Ibn al-Haytham meletakkan fondasi metode ilmiah modern, dan Ibn Sina menyusun ensiklopedia kedokteran monumental.
Sementara Averroes (Ibn Rushd) menjadi penghubung penting antara filsafat Islam dan
renaisans Eropa. Warisan ini bukan romantisme sejarah, tetapi bukti bahwa paradigma keilmuan Islam bersifat produktif, universal, dan visioner.
Untuk wahyu dan akal, bukan dua kutub yang bertentangan perdebatan klasik antara Mu‘tazilah, Asy‘ariyah, dan al-Ghazali menunjukkan dinamika besar intelektual Islam dalam merumuskan relasi wahyu dan akal. Pada akhirnya, Islam tidak pernah memusuhi akal; agama ini justru menempatkan akal dalam kerangka tauhid agar terbebas dari kesombongan epistemik dan tetap berpijak pada nilai-nilai ilahiah dalam pencarian kebenaran.
Konsep Sacred Science Nasr, gagasan Islamization of Knowledge al-Faruqi, serta model integrasi keilmuan di perguruan tinggi Islam Indonesia menandai upaya kontemporer untuk menghidupkan kembali keselarasan akal-wahyu dalam lanskap ilmu modern.
Bahkan pendekatan bayani-burhani-irfani menawarkan metodologi yang kaya bagi pengembangan ilmu yang bercorak spiritual-rasional.
Krisis modern dan urgensi kebangkitan ilmu
dunia hari ini menghadapi paradoks, teknologi berkembang pesat, namun manusia semakin teralienasi dari nilai, spiritualitas, dan kemanusiaan. Sekularisasi ilmu telah menghasilkan kemajuan teknis, namun mengikis kedalaman makna hidup.
Di sinilah pelajaran agung peradaban Islam menjadi sangat penting. Tradisi ilmiah Islam mengajarkan bahwa pengetahuan harus mencerdaskan nalar sekaligus menyucikan jiwa, harus melahirkan inovasi sekaligus menebarkan kemaslahatan. Kebangkitan dunia Islam hari ini tidak cukup dengan membangun infrastruktur, melainkan membangun kembali ekosistem ilmu yang bernilai ilahi dan berorientasi kemanusiaan.
Sehingga, dapat disimpulkan menghidupkan semangat hikmah umat Islam agar tidak kekurangan sejarah kejayaan; yang dibutuhkan adalah keberanian untuk kembali meneguhkan nilai-nilai yang pernah menjadikan umat ini mercusuar peradaban. Upaya tersebut bukanlah bentuk peniruan terhadap masa lalu, melainkan penghidupan kembali ruh intelektual Islam guna menjawab tantangan zaman secara kontekstual dan bermartabat.
Jika dunia Islam ingin kembali bermartabat, maka perjalanan itu harus dimulai dari kebun
ilmu: dari ruang kelas, perpustakaan, masjid, laboratorium, dan ketekunan berpikir.
Kebangkitan umat tidak lahir dari nostalgia, tetapi dari keberanian menjadikan ilmu sebagai ibadah, dan hikmah sebagai jalan hidup.
