Opini – Di era yang serba dimudahkan, manusia dapat mengerjakan hal yang mustahil dilakukan dalam waktu singkat hanya dalam waktu kurang dari 5 menit saja hanya dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
ChatGPT, Perplexity, Gemini, Assisten Google, dan jenis kecerdasan buatan lainnya kini dapat membantu manusia untuk mengolah data, membuat esai, mendesain gambar, menciptakan lirik lagu hingga aransemen musiknya, bahkan berdiskusilayaknya manusia.
Disatu sisi, hal ini merupakan sebuah kemampuan yang mengagumkan dan patut diacungi jempol. Namun disisi lain hal ini memunculkan sebuah pertanyaan yang mendasar; apakah kecerdasan yang dihasilkan oleh mesin sama dengan kecerdasan manusia? Apakah kemampuan AI untuk meproses informasi tersebut sama dengan kemampuan memahami manusia? Dan lebih jauh lagi, masihkah pengetahuan punya makna jika dilakukan tanpa kesadaran? Pertanyaan ini bukan sekedar teknis, tapi juga filosofis.
Sejak awal, filsafat ilmu selalu berusaha untuk menjawab bagaimana manusia tahu, paham, dan memberikan sebuah makna terhadap dunia. Ditengah kemajuan algoritma yang seakan mampu menggantikan nalar manusia, dan juga dihadapkan oleh sebuah dilema baru,bagaimana membedakan antara berpikir dengan memproses.
Dalam filsafat, ilmu bukan hanya tentang mengumpulkan dan memproses sebuah jawaban yang logis, tapi hasil dari perenungan manusia yang didasari dengan realitas dan rasional. Untuk membedakan cara berpikir antara manusia dan mesin, terlebih dahulu tentu harus diketahui apa itu pengetahuan dan bagaimana manusia bisa mendapatkannya.
Dalam hal ini, filsafat ilmu tidak hanya membahas tentang teori namun juga bagaimana manusia mengetahui sesuatu dan mengapa ia percaya itu hal yang benar. Filsafat klasik sebuah pengetahuan sejati harus memenuhi tiga unsur yang disingkat JTB yakni Kepercayaan (believe), kebenaran (truth), dan pembenaran (Justice).
Hal ini berarti bahwa pengetahuan bukan hanya tahu sesuatu, tapi juga memiliki kepercayaan moral pada kebenaran tersebut dan memiliki alasan logis untuk percaya. AI memang mampu untuk memproses data atau jawaban yang benar, namun tidak memiliki kesadaran moral mengapa hal tersebut benar. AI tahu apa yang benar, tapi tidak tahu mengapaitu benar.
Sebagai contoh kecil bisa dilihat anomali di media sosial. Seperti tralaleo tralala, gambar dan animasi seekor ikan hiu yang memakai sepatu jordan yang merupakan hasil ciptaan AI yang viral karena keanehannya.
Secara teknis gambar tersebut benar menurut perintah yang diberikan pengguna. Namun secara makna, tralalelo tralala sama sekali tidak masuk akal. Hal ini menjadi sebuah bukti kecil, bagaimana AI bisa meniru kreativitas manusia tanpa benar-benar memahami maknanya.
Sedangkan manusia berpikir dengan kesadaran dan makna. Tidak hanya sekedar mengingat atau menyusun fakta, tapi juga merenungkan dan memberikan nilai terhadap apa yang diketahui.
Manusia memahami sesuatu karena memiliki kesadaran diri dan juga pengalaman, bukan sekedar memproses informasi. Hal ini yang menjadikan sebuah landasan kuat ilmu pengetahuan. Tokoh penemu filsuf modern René Descartes memiliki sebuah ungkapan “Cogito, ergo sum” (Aku berpikir, maka aku ada), hal ini menunjukkan bahwa dengan berpikir menunjukkan akan kesadaran individu.
Immanule Kant juga mengatakan bahwa ilmu tidak pernah netral, tapi selalu berhubungan dengan cara manusia memahami sesuai dengan kesadarannya. Sementara Chat GPT dan sistem AI lainnya memang dapat meniru cara berpikir manusia. Namun kemampuan tersebut merupakan serangkaian kode-kode yang “ditanamkan” dalam sebuah sistem, dengan sejumlah algoritma yang bisa memperdiksi kata berikutnya berdasarkan pola yang telah disetting.
Ironisnya, semakin cerdas teknologi, semakin dangkal manusia berpikir.
Di kampus dan di ruang publik fenomena mesin berpikir mulai menggeser makna belajar dan juga meneliti. Mahasiswa mengerjakan tugas dibantu AI, peneliti pun demikian dan masyarakat percaya mentah-mentah pada mesin tanpa mempertanyakan keabsahannya.
pertanyaannya sekarang, siapa yang benar-benar tahu, manusia atau mesin? kalau mesin bisa menciptakan pengetahuan baru, apakah manusia masih menjadi pemikir atau hanya terima hasil saja?
Masalah ini bukan hanya soal cara berpikir, tapi juga soal nilai. ketika ilmu hanya fokus pada kecepatan dan ketepatan, sisi moral dan kemanusiaan sering diabaikan. Padahal dalam filsafat, ilmu seharusnya tidak dipisahkan dari etika. Ilmu bukan hanya menjelaskan bagaimana sebuah ilmu itu bekerja, tapi juga untuk apa ilmu itu digunakan.
Saat ini, manusia hidup dimana kecerdasan menjamur layaknya musim hujan, namun kesadaran manusia justru menurun. Di tengah
banjir informasi, manusia lupa bagaimana cara berpikir dengan makna. Sehingga jika mesin dapat menulis, meneliti atau mengambil keputusan, lalu siapa yang akan bertanggung jawab atas hasil tersebut? atau bisakah manusia menyersahkan keputusan moral pada mesin yang tidak punya kesadaran.
Teknologi hanya sebuah alat, tapi pengendalinya tetap manusia. Namun jika manusia mulai mempercayai nalarnya pada mesinyang berakibat tanggung jawab moral semakin memudar. Sehingga refleksi filosofis dalam pendidikan dan juga penelitian menjadi sebuah urgensi.
Mahasiswa, peneliti dan profesional dalam bidang apapun perlu memahami bagaimana menggunakan AI, tapi juga untuk apa dan mengapa menggunakan AI. Dalam hal ini, filsafat ilmu diperlukan dalam kehidupan. Bukan hanya sebuah teori abstrak, tapi juga sebagai panduan etis agar kecerdasan buatan tetap berada dalam kendali dan kesadaran manusia.
Kecerdasan buatan tanpa kesadaran bukanlan pemikiran sejati. mesin seperti ChatGPT bisa saja menjawab pertanyaan filsafat, tapi tidak bisa berfilsafat. bisa meniru kebijaksanaan tapi tidak bisa menjadi bijak. Terlebih ditengah gempuran kemajuan teknologi, manusia tidak boleh kehilangan makna dari berpikir, kesadaran renungan dan juga tanggung jawab.
jika manusia benar-benar berhenti berpikir dan menyerahkan segalanya pada mesin. Maka kedepan bukan kecerdasan yang kehilangan makna tapi manusia yang kehilangan jiwanya sendiri.














