ACEH JAYA – Sekolah Aman Tangguh Bencana (SANTANA) SMP Darun Nizam menggelar tradisi kearifan lokal bertajuk “Tot Apam” (Membakar Apam) di Komplek SMPN Darun Nizham Teunom, Aceh Jaya, Senin (19/1/2026).
Tot Apam digelar bukan sekadar sebagai ritual kuliner, melainkan sebagai perisai spiritual dan edukasi bagi masyarakat pesisir yang bertepatan dengan penghujung Bulan Rajab.
Untuk diketahui, Tot Apam atau Kenduri Apam Serabi merupakan tradisi Kearifan Lokal Aceh cegah bencana (Tolak Bala) ditengah ancaman perubahan iklim dan dinamika alam pesisir barat Aceh.
Tentunya, ini menjadi simbol resiliensi yang memadukan doa kepada Sang Pencipta dengan kesiapan mental menghadapi tantangan alam.
Filosofi di Balik Tungku: Lebih dari Sekadar Kudapan dalam tradisi Aceh, Buleun Rajab (Bulan Rajab) identik dengan kenduri apam.
Konon, tradisi ini berakar dari kisah kerinduan seorang hamba kepada saudaranya yang telah tiada, yang disimbolkan dengan berbagi makanan yang lembut dan putih bersih. Namun di SMP Darun Nizham, makna tersebut dieksplorasi lebih dalam.
Kepala SMP Darun Nizham, Ridwan menjelaskan bahwa, Apam ini adalah simbol ketulusan. Teksturnya yang lembut melambangkan kelembutan hati kita untuk saling membantu saat bencana datang, namun proses pembakarannya di atas api yang panas melambangkan ketangguhan mental yang harus dimiliki setiap warga sekolah.
Oleh sebab itu, bagi warga Teunom, bencana bukanlah kata asing. Sejarah panjang banjir luapan dan trauma tsunami 2004 telah menempa karakter masyarakat.
“Lewat kenduri ini, SMP Darun Nizham ingin menegaskan bahwa kesiapsiagaan tidak melulu soal sirine atau jalur evakuasi, tapi juga soal memperkuat kohesi sosial dan hubungan spiritual dengan Tuhan,” ujar Ridwan
Selain itu, Ridwan juga menjelaskan jika SANTANA merupakan Transformasi dari lumpur menuju Mercusuar. Pasalnya, SMP Darun Nizham dikenal sebagai sekolah yang kerap terendam lumpur saat musim penghujan tiba.
“Lokasinya yang berada di daerah rawan banjir membuat proses belajar mengajar sering terganggu. Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, sekolah ini bertransformasi melahirkan Program SANTANA sebagai strategi masa depan.
”Kenduri apam ini adalah manifestasi visi besar kami. Kami ingin menjaga keselamatan generasi bangsa dengan melestarikan kearifan lokal. SANTANA bukan sekadar program di atas kertas, tapi budaya hidup,” ucap Ridwan
”Melalui inovasi SANTANA, sekolah menjalin kemitraan lintas sektor. Mereka menggandeng lembaga strategis, mulai dari badan penanggulangan bencana, tokoh adat, hingga sekolah-sekolah mitra di lintas kabupaten,” tambahnya
Sementara tujuannya satu yakni menjadikan kesiapsiagaan sebagai budaya kolektif. “Kami tidak ingin bergerak sendiri. Literasi bencana harus menjadi milik bersama, bukan hanya teori di buku pelajaran yang dihafal lalu dilupakan.
“Tujuannya adalah transfer pengetahuan. Generasi Z dan Alpha di sekolah ini harus tahu cara membuat apam, tahu maknanya, dan tahu bagaimana budaya ini bisa memperkuat solidaritas saat keadaan darurat,” pungkasnya,**














