Usia Nurwani kini telah mencapai 53 tahun. Namun, angka tersebut tidak menghalanginya untuk terus menambah pengetahuan dan mengejar pendidikan tinggi. Perempuan yang lahir di Desa Pante Kuyun Kecamatan Setia Bakti, Aceh Jaya pada 6 Juni 1973 ini adalah salah satu wisudawati dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) STAI-PTIQ Aceh yang berhasil meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd). Bahkan diusianya yang jelang senja mampu meraih predikat Cumlaude.
Awalnya, Nurwani tidak pernah membayangkan untuk melanjutkan kuliah. Saat itu, kampus STAI-PTIQ Aceh mengadakan sosialisasi penerimaan mahasiswa baru didesanya. Meskipun ia sudah mendengar informasi tersebut, ia merasa kurang percaya diri untuk mendaftar karena usianya yang sudah tidak lagi muda. Namun, seorang temannya yang bernama Eka terus memberikan dorongan.“Kita coba saja tes dulu,” ajakan Eka.
Akhirnya, Nurwani mengikuti seleksi. Ia mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi. Setelah tes tersebut, ia lama tidak mendapatkan kabar lanjutan. Sementara itu, ia tetap menjalani aktivitasnya sebagai guru di Kelompok Belajar PAUD Bankeumang di gampong tempat tinggalnya. Dengan berbekal ijazah SMA, ia bahkan dipercaya untuk menjadi kepala PAUD.
Ia mendengar kabar bahwa kampus akan membuka Program S1 PAUD, yang sesuai dengan pekerjaannya. Namun, program itu belum bisa dibuka. Program studi yang ada saat itu adalah Pendidikan Agama Islam. Karena itu, setelah mengikuti tes, ia kembali tidak mendapatkan kepastian. Beberapa waktu kemudian, Eka mengajaknya untuk menanyakan langsung ke kampus. Awalnya, Nurwani menolak lagi. Namun, Eka menyatakan bahwa ia akan tetap pergi bersama Emoliza, teman mereka yang masih muda.
Pernyataan itu membuat Nurwani merenung. Ia membayangkan suatu saat mereka kuliah, lulus, dan menjadi sarjana, sementara dirinya hanya bisa melihat dari jauh. Pikiran itu yang akhirnya menguatkan niatnya untuk ikut pergi ke kampus. Sesampainya di kampus, mereka bertemu dengan Ketua STAI-PTIQ Aceh. Namun, pertemuan itu hampir membuat semangatnya kembali surut. Ketika ia dipanggil dengan sebutan “Mak”, hatinya merasa bahwa dirinya memang sudah tua. Dalam hati kecilnya, ia berpikir, “Kalau sudah dipanggil Mak, untuk apa lagi kuliah?”
Meskipun begitu, ia tetap menanyakan tentang kuliah dan proses pendaftaran. Akhirnya, ia resmi diterima sebagai mahasiswa. Perjalanan kuliahnya tidaklah mudah. Di awal-awal, ia pernah terlambat datang ke kelas karena harus menyiapkan kebutuhan suami dan anak, serta menempuh perjalanan yang cukup jauh. Dari rumah kejalan nasional, ia harus menempuh jarak sekitar 20 kilometer dengan kondisi jalan yang masih melewati hutan dan ilalang.
Suatu hari, karena terlambat, seorang dosen menegurnya dan menyuruhnya untuk tidak masuk kelas. Saat itu, air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Namun, ia tetap masuk dan duduk di bangku kuliah. Teman–temannya memperhatikan keadaannya. Dalam hati, ia berharap agar dipahami sebagai seorang tua yang tetap ingin belajar. Meskipun begitu, ia menyadari bahwa dosennya sebenarnya berniat baik untuk mendisiplinkan mahasiswa.
Sebagai mahasiswa, ia harus bergaul dengan teman-teman yang usianya jauh lebih muda. Dalam mengerjakan tugas, ia membutuhkan waktu lebih lama karena sudah lama tidak belajar secara formal. Ia pun mulai belajar kembali dari awal, mencari bahan melalui internet, membaca perlahan, dan mencatat dengan tekun. Ia selalu teringat pesan dari salah seorang dosennya, “Jangan pernah berhenti belajar meskipun kita telah berhenti sekolah.”Pesan itu menjadi penguat baginya.
Ketika pertama kali diterima kuliah, ia menyampaikan niatnya kepada suaminya. Dengan penuh harap, ia mengatakan bahwa ia ingin melanjutkan pendidikan. Sang suami justru memberikan dukungan. “Kalau mau kuliah, nanti saya belikan sepeda motor baru,” ujarnya.
Dukungan tersebut menjadi penyemangat besar baginya. Namun, tidak semua orang mendukung keputusannya. Di lingkungan tempat tinggalnya, beberapa orang mengejek dan meragukannya. “Apa gunanya pergi kuliah, begitu dapat ijazah langsung pensiun?” “Hoe keumeng ba ijazah?” (Mau dibawa ke mana ijazah itu?) Ia hanya diam dan memilih untuk tidak membalas.
Suatu hari, Nurwani pernah berdebat dengan saudaranya. Saudaranya berpendapat bahwa kuliah di usia yang tidak muda lagi hanya membuang-buang uang, lebih baik uang tersebut digunakan untuk membeli kebun atau hal lainnya, ada manfaat. Setelah selesai kuliah, nanti tidak tahu kemana harus membawa ijazahnya, karena langsung pensiun dan tidak akan digunakan lagi.
Di saat itulah, Nurwani mulai mempertahankan prinsipnya. Ia menyatakan bahwa meskipun ia tidak tahu kemana ijazah itu akan membawanya, yang pasti ia telah mendapatkan ilmu. Prinsip inilah yang membuatnya semakin bertekad untuk menyelesaikan kuliah hingga akhir.
Dengan ketekunan dan kesabaran, ia terus menjalani perkuliahan. Ia belajar menjadi mahasiswa, mengenal dunia akademik, memperluas wawasan melalui dosen-dosen, serta membangun semangat bersama teman-teman yang lebih muda. Hingga akhirnya, pada Sabtu, 7 Februari 2026, Nurwani menjadi salah satu dari 41 wisudawan yang diwisuda di Aula DPMPKB Kabupaten Aceh Jaya, Kampus STAI-PTIQ Aceh. Sebagai seorang nenek dengan satu cucu, ia berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu dan meraih predikat cumlaude.
Perjalanan hidupnya membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk belajar. Dengan tekad, dukungan keluarga, dan keyakinan pada prinsip hidup, Nurwani berhasil mewujudkan mimpinya menjadi seorang sarjana meski usianya jelang senja.














