ACEH BARAT — Wacana menjadikan kantin sekolah sebagai tempat produksi Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat tanggapan dari pengelola lapangan. Pasalnya, wacana tersebut bukan ranahnya sekolah, melainkan ranahnya SPPG bagian dapur MBG.
Asisten Lapangan SPPG Aceh Barat Woyla Timur Pasi Janeng, Muhammad Safrizal menegaskan, dapur produksi MBG paling tepat berada di SPPG, bukan di kantin sekolah sebagaimana sudah berjalan selama ini.
“Produksi makanan untuk ribuan siswa setiap hari itu bukan perkara sederhana. Butuh standar, sistem, dan pengawasan ketat. Karena itu dapurnya harus di SPPG, bukan di kantin sekolah,” ujar Safrizal di Desa Pasi Janeng, Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat, Kamis (10/9).
Safrizal merincikan ada 4 alasan Dapur MBG harus di SPPG, yakni yang pertama terkait Standar Keamanan Pangan harus ketat.
Menurut Safrizal, dapur SPPG dibangun sesuai standar BGN. Ada area cold storage, pemisahan bahan mentah dan matang, tempat pencucian 3 bak, ventilasi, sanitasi, dan pengelolaan limbah.
“Kalau di kantin sekolah, tidak semua punya fasilitas itu. Risiko kontaminasi, keracunan, dan masalah kebersihan jadi besar. Ini menyangkut kesehatan anak-anak,” jelasnya.
Yang kedua, lanjutnya, terkait Efisiensi dan Skala Produksi. 1 SPPG di Woyla Timur Pasi Janeng dirancang untuk melayani belasan sekolah sekaligus.
“Lebih efisien membangun 1 dapur besar di SPPG daripada memaksa 15 sekolah membangun 15 dapur kecil. Dari sisi anggaran, tenaga, dan pengawasan jauh lebih hemat kalau terpusat,” ungkapnya.
Kemudian, alasan ketiga terkait tidak mengganggu proses belajar mengajar. Safrizal khawatir jika produksi dipindah ke sekolah akan menambah beban guru dan kepala sekolah.
“Sekolah tugasnya mendidik. Kalau disuruh ngurus belanja, masak, cuci, distribusi ribuan porsi, kapan ngajarnya? Jangan sampai MBG malah mengganggu KBM,” tegasnya.
Alasan keempat soal pengawasan lebih mudah dan profesional. Dengan sistem terpusat, pengawasan dari BGN, Dinas Kesehatan, dan BPOM bisa dilakukan di satu titik. Menu juga disusun ahli gizi agar sesuai Angka Kecukupan Gizi AKG.
“Di SPPG ada ahli gizi, ada SOP, ada pencatatan. Mutu dan gizi makanan bisa dijaga konsisten setiap hari,” ujarnya.
Selain soal teknis, Safrizal melihat SPPG juga punya peran penting dalam menggerakkan ekonomi desa. SPPG Aceh Barat Woyla Timur Pasi Janeng yang berlokasi di Desa Pasi Janeng berkomitmen menampung hasil petani lokal.
“Kebutuhan bahan pangan MBG setiap hari itu besar. Beras, sayur, telur, ikan. Ini bisa kita serap dari petani Woyla Timur dan sekitarnya. Jadi MBG bukan hanya mengenyangkan anak, tapi juga menghidupkan petani dan UMKM,” katanya.
Ia mencontohkan, operasional 1 SPPG juga menyerap puluhan tenaga kerja seperti juru masak, helper, penerima barang, admin, driver, sampai tim kebersihan. Semuanya bisa direkrut dari masyarakat lokal.
Safrizal menegaskan, pihaknya tidak bermaksud mengesampingkan sekolah. Sekolah tetap memegang peran vital dalam keberhasilan MBG.
“Sekolah tetap penting untuk memastikan makanan sampai ke anak tepat waktu, dalam kondisi baik, dan dimakan bersama-sama. Tapi untuk urusan produksi, serahkan ke fasilitas yang memang disiapkan untuk itu, yaitu SPPG,” katanya.
Safrizal juga berharap pemerintah daerah dan BGN tetap konsisten menjadikan SPPG sebagai pusat produksi MBG.
“Harapan kami, kebijakan MBG jangan setengah-setengah. Kalau mau berhasil dan aman, fokuskan di SPPG. Biar sekolah fokus mengajar, petani dapat pasar, dan anak-anak dapat makanan bergizi yang aman,” pungkasnya.(*)
Redaksi
- Penulis: Redaksi














