OPINI – Aroma nilam Aceh sudah lama harum sampai ke pasar dunia. Minyak atsiri dari tanaman Pogostemon cablin ini menjadi bahan pengikat aroma (fiksatif) yang dicari industri parfum, kosmetik, hingga sabun. Data yang dipaparkan dalam rapat Pemerintah Aceh pada Juli 2026 menyebutkan Indonesia memasok sekitar 90 persen kebutuhan minyak nilam dunia, dan kira-kira 30 persen di antaranya berasal dari Aceh (RRI, 2026).
Peluangnya pun masih terbuka lebar. Kebutuhan dunia diperkirakan mencapai sekitar 2.500 ton per tahun, sementara produksi global baru sekitar 1.600 ton. Produksi Aceh sendiri sempat melonjak dari 150 ton pada 2017 menjadi 350 ton pada 2022, berkat pendampingan Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (Metro TV, 2023). Kadar minyak nilam Aceh juga tergolong tinggi, yaitu sekitar 2,5 hingga 5 persen, lebih unggul dibandingkan jenis nilam lain.
Namun di balik angka-angka itu, ada ironi. Pemerintah Aceh sendiri menyebutnya kondisi paradoks: permintaan dunia tinggi, tetapi petani justru kesulitan. Mereka bergulat dengan harga yang naik-turun, serangan penyakit, dan cara budidaya yang tidak selalu ramah lingkungan. Menurut saya, salah satu jawaban paling masuk akal untuk persoalan ini sudah diteliti oleh banyak ilmuwan kita sendiri: bioteknologi.
Nilam yang “Berpindah-pindah” Nilam dikenal sebagai tanaman yang rakus unsur hara. Setelah beberapa kali panen, kesuburan tanah merosot dan hasil daun ikut turun. Banyak petani kemudian memilih membuka lahan baru, tidak jarang di kawasan berhutan atau lereng perbukitan. Pola ladang berpindah seperti ini mempercepat degradasi lahan, erosi, dan hilangnya tutupan hutan.
Masalah kedua adalah penyakit. Penelitian Sriwati, Pratiwi, dan Oktarina (2022) dalam Jurnal Fitopatologi Indonesia menegaskan bahwa penyakit budok, yang disebabkan jamur Synchytrium pogostemonis, merupakan masalah utama budidaya nilam di Aceh. Selain budok, petani juga menghadapi layu bakteri dan serangan nematoda.
Akar persoalannya ada pada bibit. Nilam Aceh tidak berbunga dan tidak berbiji, sehingga hanya bisa diperbanyak lewat setek batang. Sejumlah penelitian di Universitas Malikussaleh mencatat bahwa cara konvensional ini berisiko menularkan penyakit dari tanaman induk, menurunkan mutu genetik, dan tidak mampu memenuhi kebutuhan bibit sehat. Akibatnya, petani terjebak dalam lingkaran: hasil turun, lahan baru dibuka, lingkungan rusak, lalu hasil turun lagi.
Bukti dari Laboratorium Kita Sendiri Bioteknologi sering dibayangkan sebagai laboratorium canggih yang jauh dari kebun. Padahal, banyak hasil riset di kampus-kampus Aceh menunjukkan penerapannya bisa sederhana, murah, dan dekat dengan kebutuhan petani.
Pertama, kultur jaringan. Laboratorium di Universitas Syiah Kuala dan Universitas Malikussaleh telah meneliti perbanyakan nilam Aceh secara in vitro, termasuk varietas Lhokseumawe pada 2024. Teknik ini menghasilkan bibit dalam jumlah besar, seragam, identik dengan induknya, dan bebas penyakit. Jika kebun dimulai dari bibit sehat, rantai penularan budok bisa diputus sejak awal.
Kedua, pupuk hayati. Penelitian di Universitas Syiah Kuala (2022) pada tanah Entisol Aceh Besar menemukan bahwa jenis mikoriza yang diberikan berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan berat tanaman nilam. Meski begitu, hasilnya tidak selalu sama di semua tempat. Penelitian di IPB (2004) pada tanah Ultisol justru tidak menemukan pengaruh nyata mikoriza saat tanaman mengalami kekeringan. Artinya, pupuk hayati perlu diuji dan disesuaikan dengan jenis tanah setempat, bukan disebar seragam.
Ketiga, pengendalian hayati. Peneliti Universitas Syiah Kuala juga menguji rizobakteri lokal (indigenous) sebagai agen pengendali penyakit budok pada setek nilam Aceh. Pendekatan ini lebih aman bagi tanah dan kesehatan petani dibandingkan penggunaan fungisida kimia secara berlebihan.
Keempat, dan menurut saya paling menarik, pemanfaatan limbah. Sriwati dkk. (2022) mengolah ampas sisa penyulingan nilam menjadi kompos dengan bantuan mikroba antagonis Trichoderma dan Pseudomonas. Hasilnya, tinggi tanaman meningkat 22 persen dan jumlah daun bertambah 38 persen. Ketika kompos ini dipadukan dengan minyak serai wangi 1 persen, keparahan penyakit budok tertekan hingga hanya 10 persen. Limbah yang tadinya dibuang berubah menjadi pupuk sekaligus pelindung tanaman. Inilah wujud nyata ekonomi sirkular di tingkat desa.
Tantangannya Bukan di Teknologi, tetapi di Jembatan Dari uraian di atas, jelas Aceh tidak kekurangan ilmu. Masalahnya, banyak hasil riset berhenti di jurnal, skripsi, dan seminar, belum sampai ke tangan petani di Aceh Jaya, Aceh Selatan, Aceh Barat, Gayo Lues, atau Bireuen.
Padahal, contoh keberhasilan sudah ada. Pendampingan ARC Universitas Syiah Kuala terbukti mendorong petani kembali menanam nilam, membantu menjaga harga, dan melahirkan produk turunan seperti parfum dan perawatan kulit (Metro TV, 2023). Pemerintah Aceh juga mulai mendorong Sistem Resi Gudang dan hilirisasi nilam pada 2026. Langkah di sisi hilir ini perlu diimbangi pembenahan di sisi hulu, yaitu di kebun.
Karena itu, saya mengusulkan tiga langkah. Pertama, pemerintah daerah perlu memperkuat laboratorium kultur jaringan dan kebun bibit sumber yang terjangkau kelompok tani, agar bibit bebas penyakit tidak lagi menjadi barang langka. Kedua, kampus perlu menjadikan petani sebagai mitra riset, misalnya lewat uji lapang pupuk hayati di lahan petani, karena hasil penelitian menunjukkan respons tanaman berbeda pada tiap jenis tanah. Ketiga, koperasi dan kelompok tani perlu dibantu mendirikan unit pengolahan kompos ampas nilam dan perbanyakan agens hayati, sehingga biayanya murah dan manfaatnya tetap di desa. Tanpa jembatan ini, bioteknologi hanya akan menjadi jargon. Dengan jembatan yang kuat, ia bisa menjadi alat perubahan yang nyata.
Menjaga Harum Nilam, Menjaga Hutan Aceh Nilam bukan sekadar komoditas. Ia adalah warisan, sumber penghidupan, dan potensi besar bagi ekonomi hijau Aceh. Dengan pangsa sekitar 30 persen dari pasokan nasional dan permintaan dunia yang belum terpenuhi, peluang Aceh sangat besar. Namun peluang ini hanya bisa dinikmati jika cara kita mengelola kebun berubah.
Hasil-hasil penelitian yang dikutip di atas memberi pesan yang sama: produktivitas bisa naik tanpa harus menebang hutan baru, dan penyakit bisa dikendalikan tanpa meracuni tanah. Kini tinggal kemauan bersama pemerintah, kampus, dan petani untuk membawa temuan itu dari laboratorium ke kebun. Jangan sampai harum nilam Aceh tercium ke seluruh dunia, sementara tanah dan hutan tempat ia tumbuh justru semakin rusak.
Penulis adalah mahasiswa Program Magister Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Program Pascasarjana Universitas Almuslim Bireuen.
Sumber Rujukan
1. RRI. (2026, 26 Juli). Pemerintah Aceh Dorong SRG dan Hilirisasi Nilam Perkuat Daya Saing Global.
1. Metro TV. (2023, 14 Agustus). 90 Persen Bahan Baku Parfum Dunia Berasal dari Indonesia.
1. Sriwati, R., Pratiwi, V., & Oktarina, H. (2022). Integrasi antara kompos limbah ampas nilam, mikrob antagonis dan minyak atsiri untuk mengendalikan penyakit budok. Jurnal Fitopatologi Indonesia, 18(4), 153–159.
1. Pengaruh jenis mikoriza dan dosis SP-36 terhadap pertumbuhan dan hasil nilam pada tanah Entisol Aceh Besar (2022). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian, Universitas Syiah Kuala.
1. Pengaruh inokulasi cendawan mikoriza arbuskula terhadap pertumbuhan dan tanggap tanaman nilam terhadap kekeringan pada tanah Ultisol Jasinga (2004). Repositori IPB.
1. Pengaruh rizobakteri indigenous terhadap serangan penyakit budok, enzim peroksidase, dan pertumbuhan setek nilam Aceh. Jurnal Kultivasi.
1. Optimasi pertumbuhan nilam Aceh varietas Lhokseumawe secara in vitro melalui variasi konsentrasi IAA dan BAP. Jurnal Agrium, Universitas Malikussaleh.
Redaksi
- Penulis: Taufik Hidayat Mahasiswa Pascasarjana Universitas Almuslim Bireuen Aceh
- Editor: Redaksi














